SEJARAH DAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Manusia sebagai makhluk sosial saling membutuhkan dan perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Agar maksud yang ingin disampaikan dapat tercapai, manusia memerlukan bahasa sebagai media komunikasi. Terdapat bahasa lisan, tulisan, maupun isyarat yang dapat digunakan. Namun tentu bahasa yang sering kita gunakan untuk berinteraksi secara langsung yaitu menggunakan bahasa lisan.
Secara historis, bahasa Indonesia diangkat dari bahasa Melayu, yaitu salah satu rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Melayu sejak dulu sudah dipakai sebagai bahasa penghubung (lingua franca) di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan sejarah terdapat jejak-jejak pemakaian bahasa Melayu yang ditemukan dari berbagai prasasti peninggalan pada zaman Sriwijaya Abad ke-7 , seperti (1) Prasasti Karang Bahari tahun 686; (2) Prasasti Kota Kapur tahun 686; dan (3) Prasasti Kedukan Bukit tahun 688.
Prasasti- prasasti juga tertulis di dalam Melayu Kuno terdapat di Jawa Tengah (Prasasti Gandasuli, tahun 832) dan di Bogor (Prasasti Bogor, tahun 942). Kedua prasasti di Pulau Jawa inilah yang memperkuat dugaan bahwa bahasa Melayu Kuno pada waktu itu bukan saja dipakai di Pulau Sumatera saja, melainkan juga dipakai di Pulau Jawa.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelas disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaanya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Ejaan resmi bahasa Melayu pertama kali disusun oleh Ch. A. van Ophuijsen yang dibantu oleh Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer yang dimuat dalam kitab Logat Melayu pada tahun 1801.
Pada pertengahan abad ke- 19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tingginya dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu.
Pada zaman penjajahan Belanda awal abad ke-20, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menyadari bahwa pegawai pribumi memiliki kemampuan memahami bahasa Belanda sangat rendah. Hal itu yang menyebabkan pemerintah kolonial Belanda ingin menggunakan bahasa Melayu untuk mempermudah komunikasi dan hal administrasi. Dengan menggunakan bahasa Melayu Tinggi, sejumlah sarjana Belanda mulai membuat standarisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan di dukung dengan Kitab Logat Melayu.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur (“Komisi Bacaan Rakyat” -KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Pustaka. Pada tahun 1910, komisi ini dbawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, terbukti dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.
Bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa persatuan bangsa pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional berdasarkan usulan Muhammad Yamin. Penggantian nama dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia mengikuti usulan dari Mohamad Tabrani pada Kongres Pemuda I. Selanjutnya, perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar.

👍
ReplyDelete